Multi Criteria Decision Making (MCDM) untuk Pemilihan Alternatif Proyek Skema SKD: Studi Kasus Perusahaan Manufaktur di Indonesia
Abstract
Perubahan iklim mendorong industri otomotif untuk mengembangkan kendaraan rendah emisi melalui penerapan teknologi dan sistem manufaktur yang lebih berkelanjutan. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui Project 1*5D, yaitu proyek perakitan kendaraan rendah emisi dengan skema Semi Knocked Down (SKD) dan target Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 40%. Dalam implementasinya, pemilihan lokasi assembly line dan final test menjadi permasalahan pengambilan keputusan multikriteria yang harus mempertimbangkan berbagai aspek teknis dan operasional secara bersamaan. Penelitian ini bertujuan menentukan alternatif lokasi assembly line dan final test terbaik pada Project 1*5D menggunakan pendekatan Multi-Criteria Decision Making (MCDM) melalui integrasi metode Analytical Hierarchy Process (AHP) dan Preference Ranking Organization Method for Enrichment Evaluation (PROMETHEE). Metode AHP digunakan untuk menentukan bobot kepentingan setiap kriteria berdasarkan penilaian para ahli, sedangkan metode PROMETHEE digunakan untuk mengevaluasi dan memeringkat alternatif berdasarkan bobot tersebut. Kriteria yang digunakan meliputi Driving Range, Vehicle Quality, MP Management, Cost, Equipment/Layout Modification, Part Handling, dan Space Availability. Data penelitian diperoleh melalui studi literatur, observasi lapangan, dan penyebaran kuesioner kepada responden ahli. Analisis dilakukan melalui pembobotan AHP, pemeringkatan menggunakan PROMETHEE II, serta analisis sensitivitas untuk menguji kestabilan hasil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Vehicle Quality merupakan kriteria dengan bobot tertinggi sebesar 0,278, diikuti oleh MP Management sebesar 0,205 dan Cost sebesar 0,176. Berdasarkan hasil analisis PROMETHEE II, Option 2B (Pilot Line Log#2) memperoleh nilai net flow tertinggi sebesar 0,318, sehingga dipilih sebagai alternatif terbaik. Hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa perubahan bobot kriteria Vehicle Quality hingga ±15% tidak mengubah urutan peringkat alternatif, yang mengindikasikan bahwa model pengambilan keputusan yang diusulkan memiliki tingkat kestabilan yang baik. Model yang dihasilkan dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan dalam pemilihan lokasi proyek manufaktur otomotif yang melibatkan berbagai kriteria secara sistematis dan objektif.