Strategi Pelatihan Seni Reyog Inklusif Bagi Anak Tunanetra dalam Seni Pertunjukan Tradisional
Abstract
Penelitian ini bertujuan mengkaji strategi pelatihan seni Reyog inklusif yang diterapkan dalam komunitas Reyog Surya Netra Budaya, yang melibatkan anak-anak tunanetra di Yayasan Panti Asuhan Tunanetra Aisyiyah Ponorogo. Kesenian Reyog sebagai seni pertunjukan tradisional selama ini identik dengan kekuatan fisik dan dominasi visual, sehingga menghadirkan tantangan tersendiri bagi pelaku seni tunanetra. Keterlibatan anak-anak tunanetra dalam kelompok Surya Netra Budaya menunjukkan bahwa keterbatasan penglihatan bukan menjadi penghalang dalam berkesenian, melainkan menuntut adanya penyesuaian strategi pelatihan yang berorientasi pada pengalaman tubuh. Penelitian ini memfokuskan kajian pada proses pelatihan yang dikembangkan melalui pengalaman tubuh non-visual, dengan memanfaatkan bunyi, ritme musik, sentuhan, pengulangan, serta pendampingan tubuh sebagai sarana utama dalam memahami gerak, orientasi ruang, dan koordinasi kelompok. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan fenomenologis melalui observasi, wawancara, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pelatihan inklusif yang berlandaskan kepekaan pendengaran, ingatan tubuh, dan kesadaran ritme memungkinkan anak-anak tunanetra mempelajari pola gerak dan berpartisipasi secara utuh dalam pertunjukan Reyog. Strategi tersebut tidak hanya berfungsi sebagai sarana transfer keterampilan teknis, tetapi juga berperan dalam membangun kesadaran tubuh dan kepercayaan diri sebagai pelaku seni. Penelitian ini menegaskan pentingnya strategi pelatihan dalam menjadikan seni pertunjukan tradisional sebagai ruang pembelajaran yang inklusif tanpa kehilangan nilai budaya dan estetikanya.