Dampak Perceraian Orang Tua terhadap Kebutuhan Afeksi dan Kecenderungan Pencarian Validasi Emosional pada Remaja: Studi tentang Relasi Interpersonal dalam Keluarga Broken Home
Abstract
Keluarga adalah lingkungan pertama tempat remaja mendapatkan kasih sayang dan rasa aman, namun pada tahun 2024 tercatat sebanyak 251.125 kasus perceraian atau sekitar 63% dari total kasus perceraian nasional disebabkan oleh konflik rumah tangga yang berkepanjangan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak perceraian orang tua terhadap kebutuhan afeksi dan kecenderungan pencarian validasi emosional pada remaja serta pengaruhnya terhadap pembentukan relasi interpersonal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara mendalam (In-depth Interview). Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur terhadap remaja dari keluarga yang mengalami perceraian orang tua dan dipilih secara purposif. Data dianalisis menggunakan analisis tematik melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, sedangkan keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber dan teknik serta member checking. Hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja merasa kebutuhan kasih sayangnya tidak terpenuhi karena ketiadaan figur orang tua, sehingga mereka mencarinya pada teman sebaya dan pasangan. Para remaja ini sangat membutuhkan penerimaan dan takut kehilangan, tetapi dengan cara yang berbeda. Remaja yang cenderung memendam, misalnya berpikir berlebihan dan berusaha menyenangkan orang lain agar diterima, berbeda dengan remaja yang melampiaskan ke luar dengan mengikuti perilaku kelompok dan menanggapi kritik secara keras. Penelitian ini menyimpulkan bahwa perceraian orang tua membentuk kebutuhan afeksi yang tinggi, ketergantungan pada pengakuan dari luar, serta pola relasi yang diwarnai kecemasan akan ditinggalkan hingga masa dewasa awal.